Hujan dan Rindu

Pernah gak sih lu bertanya-tanya, apa hubungannya hujan sama rindu?

Tenang tenang, gue bukan mau ngasih tebak-tebakan kok. Frase hujan pembawa rindu rasanya sering terdengar akhir-akhir ini apalagi diikuti dengan tren hujan yang semakin sering kita temui. Kenapa coba hujan dikit, selalu rindu yang dibawa-bawa. Dingin dikit, galau. Hujan dikit, rindu. Badai dikit, sange. Kalo kata orang-orang sih, hujan itu 1%-nya air, 99%-nya kenangan. Tapi bener gak sih gitu kenyataannya?

Hujan dapat menyebabkan perasaan resah bercampur gelisah, dan juga basah akibat kehujanan. Jangan ngeres otaknya!

Terlepas dari maraknya berseliweran sajak-sajak galau di linimasa yang terus menerus mengeksploitasi berbagai pola kalimat yang intinya, hujan ya pasti rindu. Mari coba kita telaah sedikit demi sedikit dari segala aspek.

Alkisah di jaman old yang kalian kids jaman now gak akan pernah kebayang...

Wait a minute...

Kids jaman now is an overused phrase and it's not funny at all. Why everyone always make a joke about it? Has your laugh-box being damaged? And I repeat it again and again, kids jaman now jokes is SHIT. Thank you.

Kita kembali pada topik pembahasan sebelumnya. Harap dimaafkan atas keterpelatukan saya dengan jokes-jokes yang bukannya bikin orang senyum-senyum malah bikin mengernyitkan dahi. Contohnya ya jokes diatas tadi. Semoga saja di dalam tulisan-tulisan gue lainnya dapat terhindarkan dari penggunaan jokes-jokes semacam itu agar tidak menurunkan kredibilitas gue sebagai seorang penulis yang ampe sekarang nulis skripsi aja gak kelar-kelar.

Berdasarkan riset yang gue lakukan bersama mbah gugel, ternyata ada sebuah penelitian yang membahas keresahan gue. Jadi ini orang penasaran juga kayaknya sama kelakukan orang-orang yang semena-mena menyalahkan hujan atas kerinduannya. Tapi setelah diteliti, ternyata emang ada hubungannya loh. Bingung kan? Namanya Seasonal Affective Disorder atau yang biasa disingkat SAD. SAD disini bukan sedih biarpun yang namanya orang galau pasti ujung-ujungnya juga sedih. Istilah ini sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 oleh Norman E. Rosenthal, M.D.

SAD ini punya panggilan beken, namanya Winter Blues atau Winter Depresion. Awalnya, winter blues ini dianggep sebagai gangguan kejiwaan yang bikin suasana hati orang-orang labil. Tapi sekarang, para ilmuwan menganggap bahwa hal ini adalah gangguan umum yang dapat dialami oleh semua orang. Mungkin karena sekarang orang-orang gak perlu nunggu hujan buat galau. Kecipratan aqua gelas pas lagi nusukin sedotan aja disangkanya gerimis terus langsung galau di tempat. Apa gak gedek entar psikiater kalo tiap musim hujan tiba-tiba pemuda-pemudi udah bikin antrian panjang buat konsultasi cuma gara-gara hujan.

Biarpun begitu, hujan gak cuma identik sama yang namanya galau. Laper juga berafiliasi sangat baik dengan hujan dan tingkat kegalauan. Ada sebuah teori yang menghubungkan ketiga unsur tadi menjadi sebuah aksi-reaksi dimana hujan dianggap sebagai katalisnya. Datangnya hujan dapat menyebabkan 2 hal. Yaitu laper dan galau. Tetapi sebelum itu, ada 2 penyebab yang dapat menyebabkan penyebab tadi bereaksi. Yaitu galau dan laper. Ini gak kebalik-balik kok. Memang siklusnya demikian.

Disini gue akan menjabarkan maksud dari teori di atas agar dapat dimengerti oleh semua orang. Berdasarkan teori diatas, dinyatakan bahwa laper yang disertai hujan dapat menyebabkan galau, begitupun sebaliknya. Teori ini lebih cocok jika gue mengambil contoh kasus anak kostan. Kira-kira begini penjabarannya.

Ketika lu laper lalu memutuskan buat nyari makan di luar, tiba-tiba hujan dateng begitu aja. Pada titik ini, jiwa lu mulai goyah. Lu galau antara harus memilih sisi laper lu atau sisi mager lu. Bahkan jika lu ternyata masih punya indomie, lu pun masih harus perang batin antara laper dan mager buat masak. Biarpun dikemajuan teknologi saat ini udah bisa pesen makanan dari hp, lu pun mager buat ngeluarin duit lebih, namanya juga anak kost. Disaat ini, lu cuma bisa berharap ada oke jelly drink yang dipercaya bisa menunda laper.

Untuk teori yang kedua, sebenernya gak terlalu jauh beda, hanya saja sedikit lebih serius kontennya. Studi kasus yang diambil juga gak main-main. Kalo terlalu menghayatinya, nanti bisa-bisa perasaan ikut terbawa. Kali ini gue udah peringatin. Jika terjadi apa-apa gue gak mau tanggung jawab. Kira-kira begini penjabarannya.

Kondisi disini adalah lu lagi galau berat sama mantan lu dulu. Ditambah hujan yang makin menyelimuti kegalauan, seakan-akan semesta ikut bersedih. Udara dingin pun mulai berhembus dari balik celah sempit di hati. Seakan-akan hangatnya tubuh tak mampu mempertahankan diri untuk bangkit lagi. Tapi tiba-tiba, tercium sebuah aroma yang penuh dengan kenangan. Aroma yang membawa kehangatan di jiwa. Dengan penuh rasa campur aduk, dicarilah sumber aroma tersebut. Dan tidak diduga-duga, aroma itu berasal dari indomie ayam bawang yang lagi dimasak sama temen kostan lu yang gak jadi beli makan gara-gara hujan. Akhirnya, lu dan temen kostan lu makan indomie sepiring berdua diiringi kenangan-kenangan masa lalu.

Hujan memang diyakini dapat mendatangkan kenangan. Janganlah berharap untuk menghanyutkan kenangan itu bersamaan dengan derasnya air hujan yang menetes di pipi. Karena kenangan akan datang seiring munculnya genangan di permukaan hati.

Comments

Popular Posts