Lagi dan Kembali
Pernah gak sih ngerasa waktu itu seakan berlalu dengan cepatnya dan lu cuma kayak jalan di tempat?
Setelah sekian lama menganggur dan menjauh dari kata lulus, hingga teman yang satu persatu mulai mempersiapkan janur kuning, rasanya hari-hari terasa begitu cepat berlalu dengan sangat tidak produktif. Jangankan temen, adek tingkat gue aja udah pada lulus. Entah udah berapa wisudaan yang gue lewatin hanya sebagai 'tim hore' daripada menjadi bagian darinya.
Tulisan pembuka di lembar yang baru ini bukanlah sebagai ajang pelarian dari terseok-seoknya masa Tugas Akhir. Rindu. Cuma satu kata itu yang dapat menggambarkan perasaan gue saat ini. Rindu akan tiap kata yang gue curahkan tanpa harus mengutip tulisan dari buku lain sebagai tinjauan pustaka. Oke, sepertinya ini emang bentuk pelarian gue.
Terlepas dari hal itu, menulis sepertinya adalah bentuk pelarian terbaik dari segala bentuk pelarian gue selama ini. Mulai dari mainan FL Studio, jadi anak vape, sampe main BitCoin. Pelarian-pelarian gue sebelumnya kayak cuma sebatas 'have fun' dan gak memberikan benefit yang sebanding dengan waktu yang terbuang. Mungkin dikesempatan berikutnya gue bakal nyeritain sebenernya gue ngapain aja dengan waktu gue yang terbuang begitu aja.
Tapi sebelum itu, ada beberapa harapan sebenernya dari proses gue nulis blog. Pertama, skill nulis gue udah sangat-sangat hilang seiring berjalannya waktu. Bahkan gue butuh waktu yang lumayan lama hanya untuk sekedar nulis 1 paragraf penelitian. Apa gak sedih. Gimana mau buruan lulus kalo nulis aja bingung mulu. Jadi dengan mencoba menulis dengan bebas tanpa format yang sudah ditentukan, gue berharap bakal sedikit mengembalikan kebiasaan nulis dan semoga dapat memperlancar menuju kelulusan.
Kedua, dikarenakan gue emang jarang mengumbar segala kegiatan gue sehari-hari melalui Instastories, gue kayak gak punya sebuah wadah dimana gue bisa menceritakan segala hal mulai dari penting sampe gak penting. Karena kalo mau cerita di Instagram, itu terlalu banyak hal yang harus diperhatikan agar tidak merusak feed. Kalo di Instastories, dalam 24 jam kan udah ilang, itu seperti tidak menjawab kegelisahan gue akan wadah yang gue inginkan. Mungkin efek hampir 2 tahun gak main Instagram yang bikin gue menjauhi platform tersebut. Nanti juga bakal gue ceritain gimana rasanya menjauh dari yang namanya Instagram dan juga efeknya terhadap perekonomian dunia. Intinya, gue butuh sebuah platform yang bisa membebaskan gue melakukan apa aja dan setidaknya bebas dari yang namanya copyright.Fuck Copyright! Semua milik Allah!
'Kenapa harus blog? Kenapa gak vlog aja? Apa gak ketinggalan jaman bikin blog hari gini?'
Sepertinya alangkah lebih baik jika hal ini gue jelaskan di tulisan yang berikut-berikutnya biar lebih jelas dan gue ada konten dikemudian hari. Tapi intinya, blog adalah platform yang paling pas dan dapat menjawab segala kegelisahan dan kebutuhan gue. Ditambah lagi, blog juga udah mulai kalah kan dari vlog. Ini malah semakin baik karena akan lebih sedikit orang yang baca segala racauan random gue ini. Less is Better. Karena kali ini gue gak membutuhkan publikasi ataupun respon dari berbagai pihak. Hanya sebatas diary sederhana yang dipublikasikan pada khalayak ramai. Ada yang baca yaudah, gak ada ya gak ada masalah kan.
Yap, mungkin sekian dulu perbincangan kita kali ini. Gak terasa udah sampai di penghujung acara. Sampai jumpa di tulisan-tulisan gue berikutnya. Jangan lupa like, subscribe, dan komen di bawah yaaaaa. SAMPAH!
Tapi sebelum itu, ada beberapa harapan sebenernya dari proses gue nulis blog. Pertama, skill nulis gue udah sangat-sangat hilang seiring berjalannya waktu. Bahkan gue butuh waktu yang lumayan lama hanya untuk sekedar nulis 1 paragraf penelitian. Apa gak sedih. Gimana mau buruan lulus kalo nulis aja bingung mulu. Jadi dengan mencoba menulis dengan bebas tanpa format yang sudah ditentukan, gue berharap bakal sedikit mengembalikan kebiasaan nulis dan semoga dapat memperlancar menuju kelulusan.
Kedua, dikarenakan gue emang jarang mengumbar segala kegiatan gue sehari-hari melalui Instastories, gue kayak gak punya sebuah wadah dimana gue bisa menceritakan segala hal mulai dari penting sampe gak penting. Karena kalo mau cerita di Instagram, itu terlalu banyak hal yang harus diperhatikan agar tidak merusak feed. Kalo di Instastories, dalam 24 jam kan udah ilang, itu seperti tidak menjawab kegelisahan gue akan wadah yang gue inginkan. Mungkin efek hampir 2 tahun gak main Instagram yang bikin gue menjauhi platform tersebut. Nanti juga bakal gue ceritain gimana rasanya menjauh dari yang namanya Instagram dan juga efeknya terhadap perekonomian dunia. Intinya, gue butuh sebuah platform yang bisa membebaskan gue melakukan apa aja dan setidaknya bebas dari yang namanya copyright.
'Kenapa harus blog? Kenapa gak vlog aja? Apa gak ketinggalan jaman bikin blog hari gini?'
Sepertinya alangkah lebih baik jika hal ini gue jelaskan di tulisan yang berikut-berikutnya biar lebih jelas dan gue ada konten dikemudian hari. Tapi intinya, blog adalah platform yang paling pas dan dapat menjawab segala kegelisahan dan kebutuhan gue. Ditambah lagi, blog juga udah mulai kalah kan dari vlog. Ini malah semakin baik karena akan lebih sedikit orang yang baca segala racauan random gue ini. Less is Better. Karena kali ini gue gak membutuhkan publikasi ataupun respon dari berbagai pihak. Hanya sebatas diary sederhana yang dipublikasikan pada khalayak ramai. Ada yang baca yaudah, gak ada ya gak ada masalah kan.
Yap, mungkin sekian dulu perbincangan kita kali ini. Gak terasa udah sampai di penghujung acara. Sampai jumpa di tulisan-tulisan gue berikutnya. Jangan lupa like, subscribe, dan komen di bawah yaaaaa. SAMPAH!
![]() |
| All Hail Blogger! |




Comments
Post a Comment